31.3.13

Teori; Karakteristik & Fungsi

Teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (a set of statements) yang menjelaskan serangkaian hal. Sifat ketidak-sepakatannya terletak pada karakteristik pernyataan tersebut. Berikut tiga karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori:

  • Unifying Statement; pernyataan suatu teori bersifat memadukan. Dengan mempersatukan pernyataan yang sependapat dan mempunyai tujuan yang sama.
  • Universal Preposition; pernyataan suatu teori berisi kaidah-kaidah umum, yang mempunyai pernyataan menjlaskan, bersifat umum dan dapat diterima oleh semua kalangan.
  • Predictive Statement; pernnyataan suatu teori bersifat meramalkan atau memprediksi, yang berarti pernyataan dari suatu teori bersifat perkiraan atau prediksi yang dapat berubah sesuai penyesuaian.
Sehingga suatu teori memiliki fungsi:
  1. Mendeskripsikan pernyataan secara umum dengan memaparkan suatu masalah praktis yang dapat mewakilkan sesuatu yang dibahas dan dapad diterima semua kalangan.
  2. Menjelaskan suatu masalah kompleks menjadi spesifik dan mencapai hal-hal detail sehingga menjadi lebih jelas sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
  3. Memperkirakan bagaiman cara memecahkan masalah yang kompleks berdasarkan cara berfikir ilmiah.


27.2.13

Setujukah Anda Dengan Ujian Nasional?


Tidak. Karena Ujian Nasional terkesan bersifat absolut. Kelulusan hasil belajar selama tiga (enam) tahun ditentukan oleh satu kali ujian, dan fokus pembelajaran bukan lagi suatu perubahan tingkah laku tetapi lulus Ujian Nasional.

Karena citra atau momok ujian nasional yang menyeramkan dan tegang, selalu saja ada yang belum siap untuk menghadapi ujian nasional secara fisik maupun mental. Menjadikan hasil ujian nasional tidak selalu hasil maksimal dari setiap peserta. Sehingga dinilai ujian nasional belum dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang mutu pendidikan di Indonesia.

Ada perubahan tujuan pembelajaran secara tersirat, yang seakan-akan menjadikan ujian nasional sebagai tujuan dari pembelajaran selama bertahun-tahun, menjadikan peserta didik terbuai dengan keberhasilan semu berupa angka-angka hasil ujian nasional. Ini juga menimbulkan masalah, ilmu atau materi yang diberikan di kelas tidak berkembang, guru akan mengacu pada soal yang akan keluar pada ujian nasional. Padahal anak Indonesia dapat melakukan dan mengembangkan kemampuannya lebih dari sekadar bisa mengerjakan ujian nasional dan lulus.

Dengan adanya ujian nasional untuk anak-anak yang mempunyai masalah dalam daya tangkap yang kurang dari rata-rata, menimbulkan rasa pesimis karena menyadari akan kesulitan belajarnya. Guru pun akan fokus pada perkembangan anak terhadap kemampuannya mengerjakan soal-soal ujian nasional, sedangkan guru mempunyai kewajiban terhadap anak dengan daya tangkap rendah untuk membimbing sampai ia mengerti terhadap setiap materi.

Akan ada dua kerugian yang timbul terhadap anak tersebut, kurangnya penguasaan materi setiap pelajaran tetapi ia dapat mengerjakan soal ujian nasional. Atau akibat dari rasa pesimis yang menimbulkan untuk berbuat kecurangan. Dari kasus tersebut terlihat menimbulkan permasalahan baru akan adanya kecurangan, ini juga menjadi tanda ketidakberhasilan suatu pembelajaran: tidak adanya perubahan tingkah laku.

Bahwa diatas angka semu sebagai nilai ada penilaian yang lebih penting dari itu, yang menentukan suatu kualitas atau mutu pendidikan, yakni penanaman karakter yang baik sebagai hasil dari pembelajaran.

telah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah evaluasi pembelajaran

Realita dan Hebatnya Profesi Guru

Ini sedikit hal yang sempat terlintas di pikiran saya saat di tengah-tengah perkuliahan hari ini, tepatnya di kelas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Bahasan hari ini tentang Prosedur Pengembangan Evaluasi Pembelajaran, yang sedikit menyinggung salah satu instrumen dari evaluasi pembelajaran yakni soal. Ya, pembuatan soal. 

Dosen saya hari itu menjelaskan pengalamannya membuat dan menganalisis kualitas soal. Dari cerita beliau yang saya tangkap bahwa membuat soal yang berkualitas dengan kadar kesulitan sekian dengan perbandingan bla bla bla sekian itu bukan sebuah hal mudah. Atau mungkin sama sekali tidak mudah. Kemudian jika seseorang dapat melakukan sebuah hal yang tidak mudah, bukan kah berarti hebat? 

Ada beberapa kata-kata menarik yang keluar dari beberapa dosen saya, 
"Kurikulum itu emang keliatan gampang hanya seperti menempel mata-mata pelajaran" 
"Saya pernah mengisi pelatihan guru, ketika para guru diminta untuk membuat RPP dan saya periksa ternyata hanya berbeda cover, isinya copas (read. copy-paste) semua"
"Kalian akan belajar bagaimana menyusun Kurikulum, SK, KD dan RPP kalian akan tahu kalau itu nggak mudah"
"Membuat soal itu bukan seperti membuat pisang goreng, yang bisa cepat, jadi dan langsung bisa dimakan"
Saya bisa mendapatkan sedikit gambaran bahwa ketika kita harus melakukan semua itu, sangat tidak mudah. Kita tahu kurikulum, RPP, soal, penilaian raport itu dekat sekali dengan profesi guru, dan mungkin tidak hanya dekat tetapi menjadi komponen yang wajib dikerjakan oleh seorang guru.

Saat itu saya tahu bahwa menjadi guru bukan benar-benar hal yang mudah. Di luar kesiapan mental menghadapi siswa, di luar lelah untuk menjelaskan pelajaran, di luar masalah daya tangkap siswa bahkan jauh di luar permasalahan-permasalahan (pribadi) yang seorang guru miliki sebagai individu. Guru sudah menjadi profesi yang tidak mudah.

Bisa bayangkan guru itu sebenarnya tidak hanya sekadar mengajar, dia memiliki banyak tanggung jawab akan siswanya di balik berdirinya ia di kelas. Seharusnya. 

Guru harus menyusun indikator dan rencana pembelajaran, membuat soal, mengisi raport, dan banyak lagi. Belum lagi gurunya sudah berkeluarga, punya tanggung jawab mengurus anak, mengatur tagihan listrik, hutang, tetapi ia harus tetap tampil di depan siswanya sebagai sosok yang 'bisa mengatasi segalanya'.

Profesi guru merupakan profesi yang menciptakan profesi-profesi lainnya. Realitanya profesi guru tidak dianggap 'sehebat itu' atau bahkan terlihat 'nggak banget'. Sekarang ini profesi guru tidak lagi menjadi profesi ideal yang di cita-citakan anak sekolah. Kenapa? Realita.

Realitanya memang para guru tidak menjadikan profesinya 'sehebat itu'. Melihat quote kedua dari salah satu dosen saya sebelumnya, para guru terkesan menganggap mudah profesinya. Tidak membuat rencana pembelajaran, tidak  memperhatikan sejauh mana perkembangan siswanya -hanya sekedar 'yang penting saya sudah menyampaikan materi', membuat soal semalam sebeum ujian atau bahkan saat hari H ujian, dan lain-lain.

Saya pikir profesi guru semestinya tidak menjadi profesi sampingan, dianggap mudah, dapat dilakukan ketika waktu luang dan santai sesuai mood. Profesi guru haruslah menjadi profesi utama yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.

Tidak berarti dengan kondisi profesi guru saat ini adalah alasan untuk tidak menghormati guru. Saya hanya berusaha menuangkan hasil pemikiran, bahwa hebatnya profesi guru itu runtuh dengan para pemegang profesinya sendiri. Saya yakin tidak semua guru seperti itu, tapi saya berdoa untuk tidak satu pun ada yang seperti itu di keesokan hari. Tidak juga saya.

Mau bagaimanapun ini hanya catatan hasil perkuliahan mahasiswa tingkat satu. Terima kasih☺