Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

21.8.18

Memilih Tempat Kursus Bahasa Inggris di Bandung

Mempelajari bahasa inggris sekarang ini sudah menjadi suatu kewajiban, karena kemampuan bahasa asing, terlebih bahasa inggris sudah menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki oleh individu yang ingin bersaing di dunia kerja. Selain itu, jika kamu ingin meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengikuti seleksi beasiswa, atau mengikuti event nasional dan internasional sudah pasti kamu wajib memiliki kompetensi bahasa inggris!

Semakin hari saya juga melihat bahwa mahasiswa semakin sadar tentang pentingnya belajar bahasa inggris, semakin banyak juga yang mencari tempat-tempat kursus bahasa inggris. Mungkin kamu masih bingung memilih tempat kursus, agar memudahkan teman-teman memilih tempat kursus bahasa inggris yang tepat, khususnya di Bandung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Tujuan Belajar Bahasa Inggris

Sebelum melakukan sesuatu memang sudah seharusnya mengetahui tujuan kan? Tujuan disini maksudnya "apa yang ingin dipelajari atau ditingkatkan dari kemampuan bahasa inggrismu?". Jika kamu sudah tahu akan memudahkan untuk memilih kelas dan tempat bahasa kursus bahasa inggris yang tepat. Misalnya, jika tujuan kamu untuk meneruskan kuliah pascasarjana yang membutuhkan nilai TOEFL dan skor TOEFL masih kurang, maka kamu bisa ambil Kelas TOEFL Preparation. Akan lain halnya jika tujuan kamu adalah agar setelah lulus mudah mencari kerja, dimana seleksi tesnya adalah wawancara dalam bahasa inggris, yang kamu butuhkan adalah kelas Conversation (percakapan). Nah silakan rumuskan tujuan belajarmu ya! 


2. Menilai Kemampuan Diri Sendiri
Tidak mudah memang menilai kemampuan diri sendiri, tetapi kamu pasti tahu sudah sejauh mana kamu bisa memahami bahasa inggris. Misalnya, kamu sudah terbiasa membaca novel dan menonton film bahasa inggris, tetapi belum mahir menulis essay terstruktur dalam bahasa inggris, mungkin yang kamu butuhkan bukan lagi kelas kursus bahasa inggris dasar (Beginner) melainkan sudah level "intermediate" atau mungkin secara spesifik kamu perlu kelas khusus academic writing.

3. Mencari yang Relatif Dekat
Jarak tempat kursus juga penting ya, apalagi kalau kamu sambil kuliah. Tempat kursus yang jauh dari tempat tinggal (kost) atau kampus juga akan lebih menguras energi kamu di perjalanan sehingga belajarnya jadi tidak efektif lagi karena kelelahan. Sebagus apapun tempat kursusnya kalau fisiknya tidak lagi efektif untuk belajar akan percuma, jadi yang terpenting adalah semangat dan kesiapan kita belajar!

4. Sesuaikan Budget
Wah, budget ini menjadi pertimbangan yang penting ya sebagai mahasiswa. Di satu sisi kita ingin menambah kompetensi, tapi di sisi yang lain tidak ingin banyak merepotkan orang tua. Pertama-tema bersyukurlah buat teman-teman yang selalu didukung, memiliki akses belajar yang mudah dan difasilitasi orang tua itu salah satu bentuk rezeki loh! Karena tidak semua orang memiliki kemudahan tersebut. Selanjutnya yang perlu diingat:
Tempat kursus yang mahal belum tentu sebagus itu, dan tempat kursus yang relatif murah belum tentu seburuk itu.
Berdasarkan pengalaman pribadi, tempat kursus yang harganya relatif murah malah menyenangkan, guru-gurunya bersemangat dan sangat membantu meningkatkan kemampuan kita. Pernah beberapa kali mengikuti kursus di tempat yang terkenal dengan harganya yang lumayan tinggi, malah mengecewakan, modulnya fotokopian hitam-putih, gurunya seperti mengajar di kelas formal, mungkin kelebihannya hanya fasilitas ruangan. Tetapi, tujuan kita belajar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris, bukan untuk menikmati ruangan berAC kan? Lagipula udara di Bandung sudah cukup dingin ;)

Jadi pertimbangannya adalah hal-hal yang menjadi prioritas, balik lagi ke tujuan. Sebaiknya prioritas dalam memilih tempat kursus adalah tersedianya program yang diinginkan, seperti kelas persiapan IELTS, academic writing, atau advanced speaking class (yang melatih untuk presentasi ilmiah dan debat) dan sebagainya.

Program Kursus Bahasa Inggris 

Berbicara tentang program kursus bahasa inggris, mungkin masih membingungkan untuk sebagian orang. Ada apa saja pilihan program kursus bahasa inggris? Sebenarnya ketersediannya berbeda-beda, namanya pun akan berbeda dari satu tempat kursus yang satu dengan yang lainnya. Namun, ada perbedaan tentu ada kesamaan, secara umum program-program yang sama disediakan oleh tempat-tempat kursus di antaranya:
  • General English
Program ini biasanya mempelajari bahasa inggris secara umum dan terstruktur, meliputi hampir semua dimensi kemampuan seperti reading, writing, listening dan speaking. Materi yang diberikan sangat beragam, yang paling dasar seperti artikel a, an dan the, tenses sampai membuat opini atau tulisan. Kelas ini cocok untuk kamu yang memiliki banyak waktu untuk belajar, atau yang masih di tingkat awal kuliah bisa memulai kursus dari program ini. Biasanya program ini dibuat level atau tingkatan, mulai dari Beginner, Pre-Intermediate, Intermediate, Upper-Intermediate dan Advanced. Sebelumnya kamu akan diminta untuk melakukan placement test, tes ini akan digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa inggris dan kelas yang tepat sesuai dengan kebutuhan kita, jadi sebaiknya diisikan dengan jujur dan tidak perlu takut atau tegang ya!
  • TOEFL/IELTS Preparation
Program ini ditujukan sebagai kelas persiapan untuk yang berencana akan mengambil TOEFL atau IELTS. TOEFL kepanjangan dari Test of English as a Foreign Language, adalah tes kemampuan bahasa inggris untuk orang-orang dari negara yang bahasa pertamanya bukan bahasa inggris, tes ini umum digunakan sebagai persyaratan kerja, beasiswa atau seleksi kuliah. Sedangkan IELTS kepanjangan dari The International English Language Testing System, dari kegunaannya TOEFL dan IELTS sama saja yang membedakan adalah lembaga yang membawahi penyelenggaraan tes. Lembaga penyelenggara TOEFL adalah ETS (Educational Testing Service) dari Amerika, sedangkan IELTS lembaga penyelenggaranya adalah British Council dari Inggris. Materi kursus dari program ini tentunya tips dan trik mengisi soal-soal yang kemungkinan muncul pada tes. Untuk kemampuan yang diujikannya pun berbeda TOEFL dan IELTS, untuk lebih jelasnya kamu bisa mencari tahu lebih banyak.

Hampir di setiap tempat kursus bahasa inggris di Bandung menyediakan program ini, tetapi untuk penyelenggaraan tesnya secara resmi tidak tersedia di semua tempat kursus. Di Kota Bandung, pengambilan tes TOEFL resmi bisa di:
  • Conversation
Program ini tujuannya untuk membantu berbicara bahasa inggris pada konteks umum, misalnya dalam keseharian, saat travelling ke luar negeri, atau bisa juga untuk memperluas pergaulan dengan teman-teman dari negara lain. Kegiatan pembelajarannya akan meminta peserta untuk selalu berbicara bahasa inggris, metode belajarnya juga bisa beragam, seperti permainan dan role-playing (drama). Program ini di beberapa tempat kursus menyediakan untuk kebutuhan yang lebih spesifik, misalnya kelas Conversation (percakapan) untuk bisnis, cocok untuk karyawan atau yang ingin bekerja di perusahaan multinasional atau bahkan bekerja di luar negri.
  • Speaking
Sedikit berbeda dari program Conversation, program Speaking biasanya bertujuan agar peserta dapat berbicara di depan umum dalam konteks formal. Kemampuan yang diajarkan seperti berpikir kritis, mengemukakan argumen secara terstruktur, public speaking, presentasi dan debat. Kelas ini sesuai untuk yang sudah terbiasa dengan percakapan bahasa inggris sehari-hari dan sudah menguasai kotakata bahasa inggris (vocabularies) cukup banyak.
  • Academic Writing
Program ini mempelajari penulisan bahasa inggris dalam konteks ilmiah, seperti esai, artikel atau jurnal. Selain akan diberikan tips dan trik untuk memperkaya gagasan dalam tulisan, kita juga akan diberikan alternatif penggunaan kosakata yang baku, atau penggunaan idiom dan istilah-istilah ilmiah. Kelas ini biasanya diambil bagi yang sedang mempersiapkan kuliah ke luar negeri untuk menunjang aktivitas perkuliahan. Jika kamu merasa sudah mampu untuk mengambil kelas ini lebih awal, kenapa tidak?! Pasti akan sangat bermanfaat!

Ulasan Tempat Kursus Bahasa Inggris di Bandung

Setelah membahas tips dan program yang dapat dipertimbangkan, berikut sedikit ulasan tentang tempat kursus bahasa inggris yang dapat dipilih. Hal ini berdasarkan pengalaman pribadi ya, bisa jadi tidak sama dengan pengalaman orang lain. Berikut daftarnya (yang saya masukkan yang relatif memiliki pengalaman yang baik):
  1. Balai Bahasa UPI
Tempat kursus yang berada di bawah Universitas Pendidikan Indonesia ini menurut saya sangat membantu saya meningkatkan kemampuan bahasa inggris. Dalam beberapa aspek juga memiliki keunggulan:
    • Fasilitas: Gedungnya nyaman, ruang kelasnya beragam, tersedia kelas besar dan kecil, dalam pengalaman saya siswanya tidak terlalu banyak, musholla dan toiletnya juga bersih. Saya selalu senang ke Balai Bahasa :)
    • Pengajar: Pengajarnya sangat kompeten, saya mengagumi hampir semua pengajarnya. Beberapa dari mereka adalah lulusan luar negeri, pengajarnya sabar, baik dan bersemangat.
    • Harga: Harganya juga relatif terjangkau bahkan masuk kategori murah, apalagi ada harga khusus untuk mahasiswa UPI!
    • Bahan Ajar: Bahan ajarnya diberikan modul yang disusun khusus oleh pengajar Balai Bahasa UPI, modulnya sangat membantu saat belajar di kelas, sayangnya modul tidak bisa dipakai untuk pembelajaran mandiri.
    • Metode Pembelajaran: Metodenya beragam dengan pendekatan individual, sangat menyenangkan dan tidak membosankan.
2. Kampung Inggris Bandung - English Prestasi Learning Center (EPLC)

Tempat kursus ini bertempat di Jl. Purnawarman No.70 dari pengalaman saya mengambil kelas speaking, sangat membantu saya belajar, dari sana saya jadi berani mengikuti event-event internasional seperti konferensi dan simposium di luar negeri.
    • Fasilitas: Gedungnya nyaman, ruang kelasnya untuk program speaking tidak di dalam ruangan, jadi lebih dinamis dan santai.
    • Pengajar: Pengajarnya masih sangat muda, beberapa diantaranya bahkan mahasiswa (yang sudah jago banget!) selain sebagai tutor mereka juga asik sebagai teman, pengajar juga tak segan memberikan umpan balik tentang kemajuan belajar secara individual.
    • Harga: Harganya juga relatif terjangkau kalau saya bandingkan dengan tempat kursus independen sejenisnya. Menyediakan fasilitas free konsultasi dan free trial.
    • Bahan Ajar: Bahan ajarnya diberikan setiap memulai kelas berupa beberapa lembar kertas (kadang berwarna! haha), singkat, padat dan jelas.
    • Metode Pembelajaran: Metodenya beragam dan menyenangkan! Lebih banyak permainan dan simulasi.

Berbeda dari tempat kursus biasanya, yang satu ini menempatkan diri sebagai club atau kelompok belajar. Selain program kelas belajar bahasa inggris, mereka juga sering mengadakan outing atau bermain bersama. Walaupun masih terbilang baru, menurut saya cukup potensial untuk terus berkembang semakin baik, disini saya mengikuti kelas speaking.
    • Fasilitas: Belum memiliki gedung sendiri, tetapi tempatnya kondusif untuk belajar
    • Pengajar: Pengajarnya masih muda-muda, ramah, dan bersemangat
    • Harga: Harganya juga terjangkau, karena kelompok belajar mereka menggunakan sistem membership tahunan (murah kok seperti iuran), nanti akan dikenakan biaya lagi untuk program nah yang ini mereka sering mengadakan diskon atau promo khusus member.
    • Bahan Ajar: Bahan ajarnya diberikan setiap memulai kelas berupa beberapa lembar kertas (berwarna juga nih!) sangat membantu pembelajaran di kelas
    • Metode Pembelajaran: Metodenya beragam dan menyenangkan! Lebih banyak permainan dan simulasi.

Semoga informasi di atas bermanfaat ya! Terpenting dari semuanya adalah sikap belajar kita, dimanapun belajarnya akan menyenangkan jika kita bersikap positif, optimis dan selalu bersemangat!






8.8.18

Tentang Kuliah Pascasarjana

Ngomong-ngomong tentang kuliah pascasarjana atau magister atau kuliah S2, sekarang sudah bukan hal luar biasa ya melanjutkan kuliah sampai setingkat magister, yaa walaupun berkesempatan untuk meraih pendidikan tinggi juga bukan hal yang seharusnya take for granted. Akhir-akhir ini banyak juga yang menuliskan tentang fenomena seakan-akan generasi saya ini berlomba-lomba untuk bisa kuliah S2, tidak ada yang salah dengan opini itu karena bisa jadi itu benar (tetapi insya Allah saya tidak termasuk salah satunya hehe). Menurut saya wajar saja jika terkesan seperti itu, karena semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, rasa ingin tahu juga bertambah mungkin secara tidak langsung generasi saya ini merasa butuh untuk belajar lagi. Di samping itu, ada beberapa yang bertanya ke saya tentang kuliah S2, saya akan mencoba menjawab dari perspektif saya.



Susah nggak kuliah S2? Apa bedanya dengan kuliah S1?
Susah atau tidaknya mungkin bergantung dengan jurusan dan mata kuliah yang diambil ya, saya pribadi merasa tidak begitu kesulitan mengikuti perkuliahan walaupun jurusan S2 saya tidak linear dengan jurusan S1, alhamdulillah. Tetapi tidak berarti tidak ada kesulitan, saya juga banyak menemui kesulitan, hanya saja masih bisa di-catch-up dengan memperbanyak baca, bertanya-tanya, dan tentu saja googling!

Saya termasuk yang mempercayai bahwa tujuan pendidikan tinggi (S1, S2, S3) itu tidak hanya berfokus pada pengembangan bidang keilmuan tertentu saja, tetapi pada perkembangan pola pikir. Di S1 kita diharapkan untuk dapat berpikir sistematis, ilmu yang disampaikan juga sifatnya aplikatif, sehingga ketika lulus dapat membantu menyelesaikan masalah di masyarakat dengan menemukan solusi yang rasional serta mampu menerapkannya. Sedangkan di S2, ilmu yang disampaikan sifatnya filosofis, yang diharapkan dari jenjang S2 adalah berpikir analitis, mampu merumuskan segala hal di balik permasalahan yang ada, dilihat dari keluaran penelitian (tesis), jenjang S2 memerlukan kajian yang lebih mendalam tidak sekedar menghubungkan teori-teori yang sudah ada.

Jika kuliah S1 dosen memberikan materi yang sangat teoritis, di S2 dosen mungkin akan jarang memberikan catatan-catatan atau materi untuk dihafalkan/dipahami/dicatat, akan lebih banyak diskusi membahas isu-isu yang sedang terjadi, contoh-contoh kasus, dan sebagainya, sebagai mahasiswa tugas kita mencari teori atau topik apa yang sebenernya sedang dibicarakan. Kuliah S2 akan lebih banyak mengharuskan kita mencari tahu sendiri tentang fokus kajian/penelitian kita sendiri. Menurut saya, kuliah S2 seru banget karena selalu mendapatkan insight baru setiap harinya! Kalau senang belajar dan meneliti, studi S2 juga akan menyenangkan untuk kamu.

Lebih baik langsung S2 atau kerja dulu?
Sejujurnya untuk pertanyaan ini saya tidak tahu jawaban yang tepat, yang bisa menjawab adalah diri masing-masing, ini dapat disesuaikan dengan rencana hidup/karir yang kita miliki, setiap orang pasti memiliki prioritas dan tujuan yang berbeda. Lagi-lagi menurut pandangan saya, akan lebih nyaman belajar di S2 ketika sudah memiliki gambaran tentang keilmuan (yang dipelajari) di lapangan, minimal 1-2 tahun pengalaman kerja cukup memberikan gambaran bagaimana keilmuan anda diaplikasikan di lapangan. Mungkin akan beda kondisinya jika ingin menjadi akademisi atau peneliti, pengalaman penelitian dan menulis jurnal akan lebih membantu. Jadi, sebelum memutuskan mungkin ditanyakan ke diri sendiri untuk apa mengambil kuliah S2? Apa tujuannya? Apakah suatu kebutuhan? Kalau jawabannya sebatas keinginan juga tidak salah kok, tapi pasti keinginannya beralasan kan? :)

Saya juga termasuk yang percaya bahwa kuliah S2 bukan untuk semua orang, maksud saya disini adalah ada orang-orang yang memang tidak membutuhkan S2, mungkin dia lebih butuh pelatihan untuk sertifikasi, mentoring atau inkubasi (untuk bisnis) dan sebagainya. Menempuh pendidikan tinggi secara formal juga tidak menjadikan kita lebih pintar dari yang tidak S2, jadi ada benarnya ketika di lapangan, pengalaman kerja memiliki memiliki bobot nilai lebih tinggi. Maka akan lebih baik ketika sudah lulus S2, tidak lagi bersaing mencari kerja melainkan sudah memiliki rencana akan berkarya/berkontribusi dimana.

Kalaupun ada yang ingin S2 karena senang belajar, duduk di kelas, mendengarkan, menemukan hal baru juga tidak salah, mungkin kesenangan itu akan membawa pada sesuatu yang belum terpikir sebelumnya. Kita tidak harus melulu sama dengan standar orang-orang, asalkan kita dapat bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang kita buat. Semangat ya!

Semoga dapat membantu mencerahkan kegalauan, silakan ditambahi jika ada yang kurang, atau dikoreksi jika ada yang salah, kalau menurut kalian kenapa kita harus kuliah S2? Silakan tinggalkan komentar!

19.7.17

Menjadi Kreatif Sebagai Seorang Teknologi Pendidikan

Menjadi seorang teknologi pendidikan bukan hanya sekedar bagaimana meningkatkan kualitas belajar, membuat media, atau mendesain sebuah pembelajaran. Di samping itu, ada salah satu term penting yang harus dimiliki oleh seorang teknologi pendidikan yaitu: kreatifitas.

Dalam 5 kawasan teknologi pendidikan; design, development, utilization, management, evaluation. Kelima kawasan ini memerlukan kreatifitas dalam implementasinya, terutama untuk mewujudkan aspek efektifitas dalam suatu teknologi pendidikan.

Aspek efektifitas sendiri dalam teknologi pendidikan ditinjau dari beberapa faktor; technology used, for which purpose, how long, by whom, how and for the benefit of whom. Kurang lebih tentang bagaimana teknologi pembelajaran ini dapat digunakan oleh siswa kapanpun dan dimanapun mereka mau, selagi mereka ingin belajar. Disinilah perlunya kreatifitas tinggi oleh seorang teknologi pendidikan untuk mendesain sebuah media belajar berbasis teknologi (mempermudah dalam pemecahan masalah, typically masalah belajar dan pembelajaran).

Kreatifitas. Apa itu kreatifitas? Ada banyak istilah untuk mendeskripsikannya, and some of importants are about discovery, innovation and invention.

Discovery is about finding something new. Menemukan hal baru, atau mungkin memberikan sesuatu yang berbeda. Hal baru disini bisa dilihat dari berbagai segi, entah mungkin tempat, bahan baku, teknik, metode, alat bantu, komponen, teori atau apapun yang memang sebelumnya belum diketahui dan belum ditemukan oleh orang lain.

Innovation is modernization something. Inovasi adalah modernisasi sesuatu, merubah atau menjadikan sesuatu lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan terkini. Sebuah perubahan yang diperlukan untuk mencapai hal-hal dan tujuan yang baru. Ketika berhasil untuk berinovasi, mungkin saat itulah kita melangkah menjadi kreatif.

Invention is transferring creative abstract ideas into concrete things, products or services. Ini adalah ketika ketika menuangkan sebuah ide menjadi sesuatu, implementasi. Invention berawal dari analisis sebuah kebutuhan sehingga lahirlah ide untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

What should be considered in Creativity?

1. Cumulative Knowledge. Pengetahuan yang luas menjadi dasar utama seseorang menjadi kreatif. Bagaimanapun terlihat perbedaan antara yang mempunyai pengetahuan luas dengan yang tidak. Semakin banyak pengetahuan akan semakin banyak ide yang kita punya, kreatifitas berdasar dari seberapa banyak hal yang kita tahu. Semakin banyak membaca, memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan orang tersebut cenderung lebih kreatif.

2. Communicative Skills. Kita tidak melakukan pekerjaan hanya untuk diri kita sendiri. Nilai suatu pekerjaan muncul ketika kita berkomunikasi tentang pekerjaan kita pada orang lain. Seseorang akan merasa senang ketika ia berbagi pikirannya dengan orang lain. Ide dan selera harus dibagi kepada orang lain atau ide tersebut akan hilang terlupakan cepat atau lambat. Berbagi pengetahuan untuk orang lain sangat penting dari sudut pandang kreativitas dan memerlukan keahlian untuk menggunakan kata-kata lisan atau tertulis dengan cara yang tepat dan sesuai.

3. Analysis. Menganalisis sesuatu berarti membagi keseluruhan unsur-unsur untuk tujuan lebih memahami. Analisis penting dari sudut pandang kreativitas agar beberapa elemen lainnya dapat ditambahkan, dihilangkan atau diubah. Kemampuan ini juga mengarahkan pada pilihan yang efektif dan efisien.

4. Perfect Work. Bekerja total yang berorientasi kesempurnaan sama dengan seperti mencoba memperlakukan sesuatu dengan perawatan mahal dengan tingkat kebersihan dan nilai estetika tinggi. Bekerja sempurna dapat diartikan bekerja dengan melakukan yang terbaik dari apa yang kita bisa, semaksimal mungkin.

5. Development. Mengembangkan berarti merubah dan mengembangkan sesuatu yang mengacu kepada hasil karya orang lain. Bisa berupa literatur, sains teknologi, filsafat, dan lain-lain. Teknologi merupakan sah satu aspek yang terus berkembang, begitupun Pendidikan. Sehingga seorang Teknologi Pendidikan tidak seharusnya merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki hari ini, karena bisa saja apa yang dia ketahui hari ini tidak lagi relevan di kemudian hari.


Be Creative Educators!



26.2.13

The Cognitivism

The Cognitivists place their focus on the students and how they gain and organise their knowledge. Students do not merely receive information but actively create a pattern of what it means to them.

Dewey defined learning as 'learning to think' and the process of learning is not just doing something, such as task but reflecting and learning from this. The teacher is the key, because he says the teacher must plan for reflective thinking to take place. Education being firmly linked to social growth was one of Dewey's main claims.

Burner considers the learning process as the acquiring of new information, transforming that learning with regards to existing knowledge and then checking it against the new situation. So, knowledge is a process rather than a product. Models are constructed by the learner which explain the existing but can also predict what might be. Burner sees the teacher's role as one facilitating the student's own discovery -known as 'inquiry training'.

Ausubel sees the key to effective learning as the students relating their new learning to existing cognitive structures. He advocates the use of 'advance organisers' (that is, bridges between what the students know and what they need to know). Such an organiser is a short description of the new material before the lesson so that the students are prepared to accept the new materials.

Cognitive psychologist argue that we are not passive receptors of stimuli when we learn: the mind actively processes the information it receives and converts it into new forms and categories. So how do we apply cognitive theories in the classroom? The following suggestion may assist you;
  1. Call attention to, take advantage of, the structure of the subject. Stress relationships in wahat you present. Use advantage organisers where appropriate and urge students to seek patterns of their own.
  2. Take advantage of students wanting to find answers to problems that have personal significance to them, so relating the learning to their own personal situations.
  3. Arrange the learning so that students discover things for themselves.
  4. Structure discussion by posing specific question.

adaptation of the article given by my lecturer in 'learning theories' class


25.11.12

The 5 Keys to Educational Technology



An Article by Hap Aziz (09/16/10) Here

What is educational technology? What are its purposes and goals, and how can it best be implemented? Hap Aziz, director of the School of Technology and Design at Rasmussen College, explores what he terms the "five key components" to approaching educational technology.
 
Educational technology is the considered implementation of appropriate tools, techniques, or processes that facilitate the application of senses, memory, and cognition to enhance teaching practices and improve learning outcomes.
 
Educational technology has a multi-faceted nature comprising a cyclical process, an arsenal of tools (both physical and conceptual), and a multiple-node relationship between learners and facilitators of instruction, as well as between learners themselves. This nature makes it somewhat difficult to provide a specific definition based on particular technologies (despite that "technology" is embedded in the term) at any given point in time. The attempt to apply meaning to the term in this way was a primary flaw of earlier definitions of the field. Therefore, I have chosen to develop a broader definition that is not dependent upon any particular interpretation of technology--past, present, or future. The breadth of my definition allows the idea of "technology" to encompass processes, as well as objects and artifacts, and this is essential to ensure longevity (and, ultimately, meaning) to the definition.

There are five key components of my own definition of educational technology that are meant to tie the multiple facets of the concept together. Key parts of the definition are implicit in the terms chosen, and I purposefully chose this somewhat "between-the-lines" approach in order to allow for future developments within the field (as well as in service of my own preference for economy of statement when defining anything of significant value). The components of my definition are listed below along with a brief discussion of each component.

  1. Considered implementation. Any technology, whether physical or conceptual, has value--beyond the purely philosophical--when it is implemented and subsequently utilized by a population. Implementation is essential, especially when one understands that educational technology is about affecting particular outcomes. The idea that the implementation should be "considered" means additionally that there is an assessment loop built into the process; as outcomes are measured, effective use of technology is repeated, while ineffective use is either improved or abandoned. Indiscriminate implementation is a frivolous use of intellectual, capital, and temporal resources, and it is all too often found to be the methodology in education environments. Finally, the considered implementation speaks to the need for effective leadership. What methodologies will be adopted? What tools will be acquired? The strong leader in education will provide the guidance necessary to ensure the best use of resources.
  2. Appropriate tools, techniques, or processes. When thinking of educational technology, this segment of my definition is likely the piece that first comes to mind. Almost reflexively, the general public, as well as the seasoned educator, looks for the silver bullet in addressing shortcomings in our system of education, and the physical trappings of technology are especially seductive. Certainly, these objects have demonstrable value; however, techniques and processes in teaching and learning are at least equally important. As educators--and, more generally, as members of a society--we have developed methodologies for accomplishing tasks and obtaining desired outcomes. These methodologies have been and continue to be refined over time, just as the latest advancements in computing technology continue to roll out unceasingly and with regularity. It is quite important to include the modifier of "appropriate" to this component, otherwise we see an ever-increasing use of technology that adds no value to education yet exacts a heavy price, again in multiple resource categories. The use of appropriate tools, techniques, or processes is much more likely to result in the outcomes that educators desire. 
  3. Facilitate the application of senses, memory, and cognition. It is in this component of my definition where I stepped the farthest away from the majority of existing definitions of the field. My intent here was to generalize the concept of learning both as a process of internalization as well as demonstration of ability. This formulation might serve as summary of Bloom's Taxonomy overlaid on learner, where learning outcomes in the form of know, do, and value are summarized by the combination of the human mind and body. But human capabilities are not wholly adequate to the demands of the modern teaching and learning enterprise, and this is where technology as facilitator has a role. The use of video to bring the depths of the universe to the learner's eyes; the use of the Internet to give the learner instant access to thoughts and observations of humanity's greatest thinkers--these are examples of technology facilitating the application of our own senses, memories, and cognitive abilities. 
  4. Enhance teaching practices. Learning in our formalized education context does not exist in a vacuum; that is, we do not simply provide learners with access to information and resources with the expectation that they will learn through discovery. In fact, our educational infrastructure is based largely on the idea that the learner will progress far more quickly under the mentorship of a skilled instructor--both knowledgeable in the subject matter and competent in instructional methodologies. In the previous component discussion I made my case for technology as a facilitator on the learner's side of education; likewise, technology should also provide assistance and support to instructors during the teaching and learning process. Demonstrations, illustrations, instruction across learning styles--all of these are areas in which technology may provide those teaching with more leverage over learner gaps in knowledge and understanding. 
  5. Improve learning outcomes. Finally, all else might turn out to be simply exercises with no point if we are unable to improve learning outcomes. If no improvements are made with the adoption of new technology, then there is no point to utilizing any technology except for the most basic required to obtain that unchanging level of learning. Therefore, to justify the continued experimentation with and exploration of new technologies: smart classrooms, use of podcasts, access to the Internet, laptops for every child, and on and on, we need to assess our outcomes, make incremental changes in our methodologies to address shortcomings, then assess again, closing the loop in order to evaluate the efficacy of our work. We succeed when we are able to show improved learning outcomes, and as long as our metrics accurately represent the entire cross-section of the learner's experience, we have a legitimate case for the continued use of technology in the teaching and learning endeavor.
There is a broad basis for discussion and debate within the field regarding multiple possible definitions of educational technology. The following sources are recommended reading on the topic.

  • Januszewski, A. (2001). Educational technology: the development of a concept. Englewood, CO: Libraries Unlimited Inc.
  • Reiser, R. A. & Ely, D. P. (1997). The field of educational technology as reflected through its definitions. Educational technology research and development. Vol. 45, No. 3, 63-72.