Showing posts with label Teknologi Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Pendidikan. Show all posts

19.7.17

Menjadi Kreatif Sebagai Seorang Teknologi Pendidikan

Menjadi seorang teknologi pendidikan bukan hanya sekedar bagaimana meningkatkan kualitas belajar, membuat media, atau mendesain sebuah pembelajaran. Di samping itu, ada salah satu term penting yang harus dimiliki oleh seorang teknologi pendidikan yaitu: kreatifitas.

Dalam 5 kawasan teknologi pendidikan; design, development, utilization, management, evaluation. Kelima kawasan ini memerlukan kreatifitas dalam implementasinya, terutama untuk mewujudkan aspek efektifitas dalam suatu teknologi pendidikan.

Aspek efektifitas sendiri dalam teknologi pendidikan ditinjau dari beberapa faktor; technology used, for which purpose, how long, by whom, how and for the benefit of whom. Kurang lebih tentang bagaimana teknologi pembelajaran ini dapat digunakan oleh siswa kapanpun dan dimanapun mereka mau, selagi mereka ingin belajar. Disinilah perlunya kreatifitas tinggi oleh seorang teknologi pendidikan untuk mendesain sebuah media belajar berbasis teknologi (mempermudah dalam pemecahan masalah, typically masalah belajar dan pembelajaran).

Kreatifitas. Apa itu kreatifitas? Ada banyak istilah untuk mendeskripsikannya, and some of importants are about discovery, innovation and invention.

Discovery is about finding something new. Menemukan hal baru, atau mungkin memberikan sesuatu yang berbeda. Hal baru disini bisa dilihat dari berbagai segi, entah mungkin tempat, bahan baku, teknik, metode, alat bantu, komponen, teori atau apapun yang memang sebelumnya belum diketahui dan belum ditemukan oleh orang lain.

Innovation is modernization something. Inovasi adalah modernisasi sesuatu, merubah atau menjadikan sesuatu lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan terkini. Sebuah perubahan yang diperlukan untuk mencapai hal-hal dan tujuan yang baru. Ketika berhasil untuk berinovasi, mungkin saat itulah kita melangkah menjadi kreatif.

Invention is transferring creative abstract ideas into concrete things, products or services. Ini adalah ketika ketika menuangkan sebuah ide menjadi sesuatu, implementasi. Invention berawal dari analisis sebuah kebutuhan sehingga lahirlah ide untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

What should be considered in Creativity?

1. Cumulative Knowledge. Pengetahuan yang luas menjadi dasar utama seseorang menjadi kreatif. Bagaimanapun terlihat perbedaan antara yang mempunyai pengetahuan luas dengan yang tidak. Semakin banyak pengetahuan akan semakin banyak ide yang kita punya, kreatifitas berdasar dari seberapa banyak hal yang kita tahu. Semakin banyak membaca, memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan orang tersebut cenderung lebih kreatif.

2. Communicative Skills. Kita tidak melakukan pekerjaan hanya untuk diri kita sendiri. Nilai suatu pekerjaan muncul ketika kita berkomunikasi tentang pekerjaan kita pada orang lain. Seseorang akan merasa senang ketika ia berbagi pikirannya dengan orang lain. Ide dan selera harus dibagi kepada orang lain atau ide tersebut akan hilang terlupakan cepat atau lambat. Berbagi pengetahuan untuk orang lain sangat penting dari sudut pandang kreativitas dan memerlukan keahlian untuk menggunakan kata-kata lisan atau tertulis dengan cara yang tepat dan sesuai.

3. Analysis. Menganalisis sesuatu berarti membagi keseluruhan unsur-unsur untuk tujuan lebih memahami. Analisis penting dari sudut pandang kreativitas agar beberapa elemen lainnya dapat ditambahkan, dihilangkan atau diubah. Kemampuan ini juga mengarahkan pada pilihan yang efektif dan efisien.

4. Perfect Work. Bekerja total yang berorientasi kesempurnaan sama dengan seperti mencoba memperlakukan sesuatu dengan perawatan mahal dengan tingkat kebersihan dan nilai estetika tinggi. Bekerja sempurna dapat diartikan bekerja dengan melakukan yang terbaik dari apa yang kita bisa, semaksimal mungkin.

5. Development. Mengembangkan berarti merubah dan mengembangkan sesuatu yang mengacu kepada hasil karya orang lain. Bisa berupa literatur, sains teknologi, filsafat, dan lain-lain. Teknologi merupakan sah satu aspek yang terus berkembang, begitupun Pendidikan. Sehingga seorang Teknologi Pendidikan tidak seharusnya merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki hari ini, karena bisa saja apa yang dia ketahui hari ini tidak lagi relevan di kemudian hari.


Be Creative Educators!



26.2.14

Kurikulum 2013 Menaruh Harapan Pembentukan Karakter Bangsa

Kemunculannya memunculkan banyak pendapat, kritik, komentar bahkan harapan. Kurikulum 2013 dirancang untuk penyempurnaan kurikulum sebelumnya dengan berbagai pendekatan baru dan ciri khas baru. Ada beberapa istilah yang erat dengan kurikulum 2013 ini semisal pendekatan saintifik, pembelajaran tematik dan pembentukan karakter.

Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Dari kecenderungan ini yang menjadi fokus perhatian adalah generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian kelompok atau tawuran. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut bersumber dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif sehingga kurangnya kepekaan sosial para generasi muda Indonesia.

Berbagai permasalah moral yang ada menjadi salah satu alasan penyempurnaan kurikulum yang sudah ada. Kurikulum 2013 dirancang dengan menekankan pada aspek produktif, afektif, kreatif dan inovatif. Diharapkan ini dapat menjadi jawaban terhadap tantangan masa depan: globalisasi dan konvergensi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemajuan teknologi informasi yang berimbas pada kompetensi masa depan seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, mampu hidup dalam masyarakat global bahkan hingga memiliki kesiapan untuk bekerja juga menjadi alasan tersendiri. Kurikulum ini dirumuskan berbasis proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses pendekatan saintifik untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik.

Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar  peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami  berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru.

Strategi pembelajarannya bercirikan kolaboratif sehingga melibatkan keaktifan belajar peserta didik. Kini peserta didik diharapkan dapat lebih mengekplorasi potensi, minat dan bakat yang dimilikinya. Kemampuan dan kreativitas peserta didik bisa diperoleh melalui proses mengamati, bertanya, menalar, mencoba serta membentuk jejaring. Sehingga, pembelajaran di dalam kelas pun diharapkan menciptakan interaksi dua arah antara guru dan siswa.

Aspek pembentukan karakter bangsa dalam kurikulum 2013 merupakan buah pikiran dari desakan berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang, manipulasi dan sebagainya menunjukkan bangsa ini perlu menumbuhkan budaya jujur dan anti-korupsi melalui kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan.

Pembelajaran tematik muncul sebagai salah satu strategi penyelesaiannya. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran sebagai proses untuk mengaitkan dan memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar-mata pelajaran dengan semua aspek sehari-hari disesuaikan dengan perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan, sosial, dan keluarga.

Desain kurikulum 2013 ini juga menjadi tantang terhadap para guru. Guru dituntut profesionalitasnya sebagai guru yang kreatif dan inovatif. Ini menjadi tugas mulia guru untuk mewujudkan generasi muda berkarakter kuat.

Usaha pemerintah dengan memberikan pelatihan untuk mempersiapkan kompetensi guru yang sesuai dengan kurikulum 2013 berjalan kurang baik, karena pada kenyataannya banyak sekali menuai kritik kurangnya sosialisai dan informasi secara langsung. Menjadi kreatif dengan merancang berbagai strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan kurikulum bukan menjadi tugas mudah, sehingga alangkah lebih baik para guru dapat mempersiapkan diri dengan mengembangkan kecakapan profesional keguruan.

Kurikulum yang sudah dirancang sedemikian rupa dan menaruh harapan pada pembentukan karakter bangsa yang lebih baik tidak akan dapat terlaksana tanpa adanya kerjasama yang baik antar semua elemen yang terlibat, baik itu pemerintah, guru, siswa, orangtua siswa dan masyarakat.

Referensi:
  • Dokumen Kurikulum 2013. (2012). Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • [Online] Palupi, Yudhi. Tantangan Guru Kreatif-Inovatif Menyongsong Kurikulum 2013. (2013). Tersedia: http://bintangpapua.com/index.php/waropen/item/2244-tantangan-guru-kreatif-inovatif-menyongsong-kurikulum-2013
  • [Online] Kurniawati. Konsep Dasar Pembelajaran Tematik. (2013). Tersedia: http://uukurniawati.wordpress.com/2013/05/17/konsep-dasar-pembelajaran-tematik/
  • [Online] Hariadi, Teguh. Definisi Saintifik Kurikulum 2013. (2013). Tersedia: http://perangkatguruindonesia.blogspot.com/2013/11/definisi-pendekatan-saintifik-kurikulum.html
  • [Online] Keswara, Ratih. Aspek Kurikulum 2013: Produktif, Kreatif, Inovatif. Afektif. (2013). Tersedia: http://nasional.sindonews.com/read/2013/04/28/15/742844/aspek-kurikulum-2013-produktif-kreatif-inovatif-afektif


Mini Paper Analisis Kurikulum 2013 diajukan sebagai tugas akhir mata kuliah Pengembangan Kurikulum

BACTERIOPHAGE DIAGRAM



Diajukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Media Grafis


Filsafat Teknologi Pendidikan

®     Konsep Filsafat Teknologi Pendidikan

Konsep Filsafat
·        Secara etimologis filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan.
Secara operasional filsafat adalah berpikir untuk memperoleh kebenaran sebagai wujud cinta filsuf kepada kebijaksanaan.

Konsep Teknologi Pendidikan
·         Studi dan praktek etis dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur proses teknologi dan sumber daya yang cocok. (AECT, 2004)

Konsep Filsafat Teknologi Pendidikan
·         Secara operasional berarti proses berfikir untuk menghasilkan sistem pikiran atau sistem teori tentang hakikat dan esensi dari praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
·         Secara leksikal berarti pandangan hidup atau landasan pengambilan keputusan dan dasar tindakan dalam praktik pendidikan khususnya dalam objek kajian teknologi pendidikan.

®     Objek Studi Filsafat dan Filsafat Teknologi Pendidikan
Objek studi filsafat umum terbagi dua, yaitu:

1.       Objek Material Filsafat adalah segala sesuatu yang ada, meliputi:
·         Segala sesuatu yang ada yang telah tergelar di dunia seperti: alam, manusia pengetahuan dan nilai.
·    Segala sesuatu yang ada sebagai hasil kreasi manusia , seperti: politik, ekonomi, hukum, ilmu, pendidikan dsb.

2.       Objek Formal Filsafat
Objek formal filsafat adalah pertanyaan reflektif atau pertanyaan yang memerlukan jawaban, adapun pertanyaan tersebut berkenaan dengan segala sesuatu.

Sedangkan objek material dari filsafat teknologi pendidikan adalah manusia dan pendidikan, sebagai kajian umum dari segala sesuatu yang telah ada di dunia.
Dan memiliki objek formal yang menjadi objek kajian khusus dalam teknologi pendidikan, meliputi:
·         Perancangan (desain) pembelajaran.
·         Pengembangan berbagai macam sumber belajar, orang, pesan, media, alat, metode, dan lingkungan.
·         Pengembangan sumber belajar baik secara konseptual maupun faktual.
·         Pengelolaan kegiatan pengembangan sumber belajar.

·         Mengkaji permasalahan-permasalahan pendidikan, meliputi pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan, relevansi pendidikan, efisiensi dan efektifitas pendidikan.

®     Status Filsafat Teknologi Pendidikan dalam Sistematika Filsafat
Status filsafat teknologi pendidikan merupakan filsafat khusus bagian atau cabang dari filsafat pendidikan.


®     Kegunaan Filsafat Teknologi Pendidikan

Filsafat teknologi pendidikan berfungsi memberikan pedoman kemana pendidikan seharusnya diarahkan, yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan.
Proses berfikir filsafat teknologi pendidikan juga dapat memberikan landasan teori atau ilmu bagi praktik pendidikan dan cabang ilmu pendidikan. Filsafat teknologi pendidikan sebagai ilmu yang mengasuh dan memberikan arahan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya yang berdampak pada bidang kajian teknologi pendidikan.

®     Asumsi Sains Modern dan Sains Baru
Sains Modern
Sains Baru
Realitas sudah jadi (given)
Realitas sedang menjadi
Sifatnya tidak berubah
Tiap waktu berubah
Dianut oleh paham Newton (Newtonian)
Bergabung dan interkoneksitas
Fungsi dan pernanannya sudah ditentukan
Sulit memecah reaksi
Termasuk kedalam konsep reduksionisme/mistis. Segala sesuatu dapat direduksi menjadi bagian-bagian
Antar disiplin ilmu tidak parsial
Memandang sesuatu secara menyeluruh (gabungan dari bagian-bagian)
Memandang sesuatu sebagai kesatuan (tidak memisahkan tubuh dan jiwa)
Statis, Mekanisme, Determinisme
Dinamis, Konstruktivisme
Asas kebenaran; konsep sama dengan praktek dan objektivisme (di luar diri)
Reaksi dibangun oleh diri kita sendiri

®     Aliran yang Menentukan Perkembangan Peserta Didik
Nativisme
       Dikemukakan oleh Schopenhavev
       Merupakan teori pesimis tentang pendidikan; bahwa setiap individu membawa potensi dan bakat yang merupakan faktor keturunan. Bakat atau potensi ini diyakini yang menjadi faktor penentu perkembangan peserta didik.
Empirisme
       Dikemukakan oleh J. Locke
       Manusia lahir diibaratkan sebagai tabula rasa (kertas kosong). Bahwa setiap individu berkembang tergantung kepada pendidik ingin menjadikannya seperti apa.
Konvergensi
       Dikemukakan oleh W. Stern
       Manusia lahir seperti kertas yang masih buram. Ada bagian yang bisa dipengaruhi oleh pendidikan (inteligible), ada bagian yang tidak bisa dipengaruhi pendidikan, yaitu jiwa biologis.


Kuantitatif
Kualitatif
Epistemologi
(Realitas Independen)
Tunggal
Jamak
Dapat diamati dan dapat dibagi
Holistik
Dalam upaya mencari pengetahuan (riset)
Dualisme (Objek dan Subjek terpisah)
Interaktif (Objek dan Subjek berhubungan)
Tidak bisa memahami, hanya bisa menerangkan
Ideografis individualistik (hanya berlaku untuk objek yang diteliti)
Kesamaan dan Generalisasi
Partisipasi
Asumsi hubungan sebab-akibat
Tidak bebas nilai (objektif)
Metode Eksperimen
Mencari pemahaman makna

®     Pro, Kontra, Demekanisasi dan Memanusiakan Teknologi Pendidikan

Pro teknologi pendidikan memiliki asumsi bahwa teknologi pendidikan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan. Sedangkan kontra teknologi pendidikan adalah yang berpendapat pendidikan sebagai seni, bahwa pendidikan bukan suatu hal yang bisa direkayasa tetapi pendidikan adalah kreasi individual.

Yang diharapkan adalah dapat memadukan pemahaman pendidikan sebagai seni tersebut dengan pemahaman lainnya agar praktik pendidikan lebih luwes, yang dikhawatirkan dari rekayasa dan pengggunaan teknologi dalam pendidikan adalah mekanisasi pendidikan.
Sedangkan memanusiakan teknologi pendidikan adalah upaya memudahkan proses pembelajaran dalam konten bahan belajarnya terdapat unsur memanusiakan manusia.

Menurut Ki Hajar Dewantara, mengapa setiap orang dapat berhasil mendidik walau tanpa belajar (mengajar)? Individu pada dasarnya memiliki Insting Pedagogik dan Intuisi Pedagogik. Karena munculnya teori besar bermulai dari intuisi.

“Siapapun akan menjadi guru yang baik jika mempelajari ilmunya.”
 Mengapa ilmu mengajar harus dipelajari? Karena salah satu ciri pendidikan adalah usaha sadar yang didapat dengan mempelajari ilmunya.





7.5.13

Strategi Pembelajaran


Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

J. R David dalam Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya,bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learningdan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Tugas Anda, silakan kemukakan konsep dan contoh dari:
(1) exposition-discovery learning, dan
(2) group-individual learning

(1) Exposition-Discovery Learning adalah dua strategi yang berbeda. Pada pelaksanaannya Exposition Learning memposisikan guru sebagai penyampai informasi. Dimana guru sudah menyiapkan konten-konten yang akan dipelajari langsung oleh siswa hari itu. Peran siswa pada strategi ini hanya sebagai penerima bahan pelajaran yang diberikan oleh guru dan dituntut untuk menguasainya tetapi tidak dituntut untuk mengolahnya terlebih dulu. Contoh penggunaan strategi ini ketika guru menggunakan metode ceramah.

Berbeda dengan Discovery Learning, dimana peran guru disini sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. Siswa akan dituntut untuk menemukan konten pelajaran-nya sendiri. Dimana siswa akan belajar melalui berbagai aktivitas yang dilakukannya, sehingga ia mencari dan menemukan isi utama dalam pembelajarannya sendiri. Contoh penerapannya, ketika para siswa diminta oleh guru melakukan observasi dan membuat laporan hasil observasi yang didapatkannya.

(2) Individual Learning merupakan strategi pembelajaran dimana pembelajaran dilakukan secara individual oleh siswa secara mandiri. Segala hal yang berkaitan dalam pembelajaran ini sudah didesain untuk belajar sendiri, sehingga pembelajaran individual ini menuntut siswa untuk belajar dan menyelesaikan tugasnya secara mandiri tanpa kerjasama dengan orang lain. Keberhasilan dari pembelajaran ini ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan, dimana individu dituntut untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, kecepatan, kemampuan dan caranya sendiri. Contoh dari penerapan strategi pembelajaran ini adalah, belajar mandiri dengan media modul, kaset audio, cd interaktif, BSE, dsb. Dalam pelaksanaanya, pembelajaran ini akan menemukan kendala terhadap individu pebelajarnya. Individu tidak dapat bertanya dengan guru, tidak terbiasa untuk bekerja dalam 'team' dan dikhawatirkan minat dan perhatian siswa akan berkurang karena kurangnya komunikasi belajar antar siswa.

Sedangkan Group Learning atau Cooperative Learning adalah pembelajaran yang dilakukan secara beregu atau berkelompok, baik regu kelompok besar maupun kelompok kecil. Biasanya dalam satu kelompok akan ada seorang atau beberapa orang yang berperan sebagai guru. Strategi ini tidak memperhatikan kecepatan belajar secara individual, setiap individu peserta belajar dianggap sama. Walaupun biasanya peserta belajar dalam kelompok tersebut memiliki latar belakang kemampuan akademik, ras, jenis kelamin yang berbeda-beda. Penggunaan pembelajaran ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus meningkatkan kemampuan hubungan sosial, dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam berpikir, memecahkan masalah, selain mengintegrasi pengetahuan dan keterampilan, siswa juga dapat belajar untuk menerima kekurangan orang lain. Karena dalam strategi ini setiap individu akan dituntut untuk memecahkan masalah dengan bekerjasama dan mengembangkan kemampuannya sebagai satu kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. Contoh penerapan dari strategi ini adalah tutor sebaya.




diajukan untuk memenuhi Quiz Mata Kuliah: Pengembangan Sistem Pembelajaran @ edmodo




31.3.13

Teori; Karakteristik & Fungsi

Teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (a set of statements) yang menjelaskan serangkaian hal. Sifat ketidak-sepakatannya terletak pada karakteristik pernyataan tersebut. Berikut tiga karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori:

  • Unifying Statement; pernyataan suatu teori bersifat memadukan. Dengan mempersatukan pernyataan yang sependapat dan mempunyai tujuan yang sama.
  • Universal Preposition; pernyataan suatu teori berisi kaidah-kaidah umum, yang mempunyai pernyataan menjlaskan, bersifat umum dan dapat diterima oleh semua kalangan.
  • Predictive Statement; pernnyataan suatu teori bersifat meramalkan atau memprediksi, yang berarti pernyataan dari suatu teori bersifat perkiraan atau prediksi yang dapat berubah sesuai penyesuaian.
Sehingga suatu teori memiliki fungsi:
  1. Mendeskripsikan pernyataan secara umum dengan memaparkan suatu masalah praktis yang dapat mewakilkan sesuatu yang dibahas dan dapad diterima semua kalangan.
  2. Menjelaskan suatu masalah kompleks menjadi spesifik dan mencapai hal-hal detail sehingga menjadi lebih jelas sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
  3. Memperkirakan bagaiman cara memecahkan masalah yang kompleks berdasarkan cara berfikir ilmiah.


26.2.13

The Cognitivism

The Cognitivists place their focus on the students and how they gain and organise their knowledge. Students do not merely receive information but actively create a pattern of what it means to them.

Dewey defined learning as 'learning to think' and the process of learning is not just doing something, such as task but reflecting and learning from this. The teacher is the key, because he says the teacher must plan for reflective thinking to take place. Education being firmly linked to social growth was one of Dewey's main claims.

Burner considers the learning process as the acquiring of new information, transforming that learning with regards to existing knowledge and then checking it against the new situation. So, knowledge is a process rather than a product. Models are constructed by the learner which explain the existing but can also predict what might be. Burner sees the teacher's role as one facilitating the student's own discovery -known as 'inquiry training'.

Ausubel sees the key to effective learning as the students relating their new learning to existing cognitive structures. He advocates the use of 'advance organisers' (that is, bridges between what the students know and what they need to know). Such an organiser is a short description of the new material before the lesson so that the students are prepared to accept the new materials.

Cognitive psychologist argue that we are not passive receptors of stimuli when we learn: the mind actively processes the information it receives and converts it into new forms and categories. So how do we apply cognitive theories in the classroom? The following suggestion may assist you;
  1. Call attention to, take advantage of, the structure of the subject. Stress relationships in wahat you present. Use advantage organisers where appropriate and urge students to seek patterns of their own.
  2. Take advantage of students wanting to find answers to problems that have personal significance to them, so relating the learning to their own personal situations.
  3. Arrange the learning so that students discover things for themselves.
  4. Structure discussion by posing specific question.

adaptation of the article given by my lecturer in 'learning theories' class


19.2.13

Konsep Dasar Mengajar


Mengajar Sebagai Proses Menyampaikan Materi Pelajaran

Definisi mengajar (teaching) mengalami perkembangan. Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyebaran informasi atau pengetahuan dari guru pada siswa.

Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik, yaitu :

 Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
Guru memegang peran penting dalam kegiatan pembelajaran. Sehubungan dengan proses pembelajaran yang berpusat pada guru, maka ada 3 peran utama yang harus dilakukan guru. Yaitu guru sebagai perencana, penyampai informasi dan evaluator. Sebagai perencana, guru perlu menyiapkan berbagai hal yang diperlukan. Sebagai penyampai informasi, guru perlu menggunakan metode yang tepat untuk menyampaikan informasi. Sebagai evaluator, guru menentukan alat evaluasi keberhasilan pengajaran.


Siswa sebagai objek belajar
Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya sangat terbatas. Sebab, dalam proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh guru.

Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
Proses pembelajaran berlangsung pada tempat dan waktu yang telah ditentukan, sehingga proses pembelajaran menjadi sangat formal. Cara mempelajari materi dengan bagian yang terpisah, seakan tidak ada kaitan antara materi satu dengan yang lainnya.

Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Kadang-kadang siswa tak perlu memahami apa gunanya mempelajari bahan tersebut. Karena itu, maka alat evaluasi yang digunakan biasanya adalah tes hasil belajar tertulis yang dilaksanakan secara periodik.

Mengajar Sebagai Proses Mengatur Lingkungan

Pandangan ini menganggap mengajar sebagai proses mengatur lingkungan dengan harapan agar siswa belajar. Yang penting dalam mengajar pada pandangan ini adalah proses mengubah perilaku.

Terdapat beberapa karakteristik dari konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan, yaitu :

Mengajar Berpusat Pada Siswa (student centered)
Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar sesuai dengan gayanya sendiri. Guru tak lagi berperan hanya sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai orang yang membimbing dan memfasilitasi agar siswa mau dan mampu belajar. Inilah makna student centered. Siswa ditempatkan sebagai subjek yang belajar sesuai bakat, minat dan kemampuan yang dimilikinya

Siswa sebagai Subjek Belajar
Dalam konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan, siswa dipandang sebagai organisme yang aktif, yang memiliki potensi untuk berkembang. Mereka adalah individu yang memiliki kemampuan dan potensi.

Proses Pembelajaran Berlangsung di Mana Saja
Sesuai karakteristik pembelajaran yang berorientasi pada siswa, maka proses pembelajaran bisa berlangsung dimana saja. Siswa dapat memanfaatkan berbagai tempat belajar sesuai kebutuhan dan sifat materi pelajaran

Pembelajaran Berorientasi Pada Pencapaian Tujuan
Tujuan pembelajaran adalah proses untuk mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Sejauh mana materi pelajaran yang dikuasai siswa dapat membentuk pola perilaku siswa itu sendiri.metode yang digunakan guru tidak hanya ceramah, tetapi menggunakan berbagai metode, seperti penugasan, kunjungan ke objek tertentu, dan sebagainya.

reposted from here

Characteristics Of Good Teaching

"The aim of teaching is simple: it is to make student learning possible...To teach is to make an assumption about what and how the student learns; therefore, to teach well implies learning about students' learning" (Ramsden, 1992)
One set of characteristics of good teaching, extracted from research studies and summarized from the individual lecturer's point of view (Ramsden, 2003) includes:
  • A desire to share your love of the subject with students
  • An ability to make the material being taught stimulating and interesting
  • A facility for engaging with students at their level of understanding
  • A capacity to explain the material plainly
  • A commitment to making it absolutely clear what has to be understood at what level and why
  • Showing concern and respect for students
  • A commitment to encouraging independence
  • An ability to improvise and adapt to new demands
  • Using teaching methods and academic tasks that require students to learn actively, responsibly and co-operatively
  • Using valid assessment methods
  • A focus on key concepts, and students misunderstandings of them, rather than covering the ground
  • Giving the highest quality feedback on student work
  • A desire to learn from students and other sources about the effects of teaching and how it can be improved.

"Tujuan pengajaran itu sederhana: bagaimana membuat siswa belajar sebisa mungkin.. Mengajar adalah untuk membuat asumsi tentang 'apa dan bagaimana siswa belajar', sehingga untuk mengajar dengan baik berarti belajar tentangbagaiman siswa belajar" (Ramsden, 1992)

Karakteristik dari pengajaran yang baik, diambil dari penelitian dan diringkas dari sudut pandang dosen individu  (Ramsden, 2003) meliputi:

  • Keinginan untuk membagi kecintaan anda terhadap subjek yang akan disampaikan kepada siswa
  • Kemampuan untuk membuat materi yang diajarkan agar merangsang dan menarik
  • Fasilitas untuk terlibat dengan siswa pada tingkat pemahaman
  • Menjelaskan materi dengan jelas sesuai dengan kapasitasnya
  • Membuatnya benar-benar jelas apa yang harus dipahami, pada tingkat apa dan mengapa
  • Menunjukkan perhatian dan rasa hormat bagi siswa
  • Mendorong kebebasan (mengemukakan pendapat) kepada siswa
  • Kemampuan untuk berimprovisasi dan beradaptasi dengan tuntutan baru
  • Menggunakan metode pengajaran dan tugas-tugas akademik yang menuntut siswa untuk belajar aktif, bertanggung jawab dan dengan kooperatif
  • Menggunakan metode penilaian yang berlaku (disahkan)
  • Fokus pada konsep-konsep yang penting, dan tingkat ketidak-pamahaman siswa
  • Memberikan umpan balik (reinforcement) yang paling baik atas pekerjaan siswa
  • Keinginan untuk belajar dari siswa dan sumber-sumber lain tentang hasil pmebelajaran dan berfikir bagaimana kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.

    the original article is here




25.11.12

The 5 Keys to Educational Technology



An Article by Hap Aziz (09/16/10) Here

What is educational technology? What are its purposes and goals, and how can it best be implemented? Hap Aziz, director of the School of Technology and Design at Rasmussen College, explores what he terms the "five key components" to approaching educational technology.
 
Educational technology is the considered implementation of appropriate tools, techniques, or processes that facilitate the application of senses, memory, and cognition to enhance teaching practices and improve learning outcomes.
 
Educational technology has a multi-faceted nature comprising a cyclical process, an arsenal of tools (both physical and conceptual), and a multiple-node relationship between learners and facilitators of instruction, as well as between learners themselves. This nature makes it somewhat difficult to provide a specific definition based on particular technologies (despite that "technology" is embedded in the term) at any given point in time. The attempt to apply meaning to the term in this way was a primary flaw of earlier definitions of the field. Therefore, I have chosen to develop a broader definition that is not dependent upon any particular interpretation of technology--past, present, or future. The breadth of my definition allows the idea of "technology" to encompass processes, as well as objects and artifacts, and this is essential to ensure longevity (and, ultimately, meaning) to the definition.

There are five key components of my own definition of educational technology that are meant to tie the multiple facets of the concept together. Key parts of the definition are implicit in the terms chosen, and I purposefully chose this somewhat "between-the-lines" approach in order to allow for future developments within the field (as well as in service of my own preference for economy of statement when defining anything of significant value). The components of my definition are listed below along with a brief discussion of each component.

  1. Considered implementation. Any technology, whether physical or conceptual, has value--beyond the purely philosophical--when it is implemented and subsequently utilized by a population. Implementation is essential, especially when one understands that educational technology is about affecting particular outcomes. The idea that the implementation should be "considered" means additionally that there is an assessment loop built into the process; as outcomes are measured, effective use of technology is repeated, while ineffective use is either improved or abandoned. Indiscriminate implementation is a frivolous use of intellectual, capital, and temporal resources, and it is all too often found to be the methodology in education environments. Finally, the considered implementation speaks to the need for effective leadership. What methodologies will be adopted? What tools will be acquired? The strong leader in education will provide the guidance necessary to ensure the best use of resources.
  2. Appropriate tools, techniques, or processes. When thinking of educational technology, this segment of my definition is likely the piece that first comes to mind. Almost reflexively, the general public, as well as the seasoned educator, looks for the silver bullet in addressing shortcomings in our system of education, and the physical trappings of technology are especially seductive. Certainly, these objects have demonstrable value; however, techniques and processes in teaching and learning are at least equally important. As educators--and, more generally, as members of a society--we have developed methodologies for accomplishing tasks and obtaining desired outcomes. These methodologies have been and continue to be refined over time, just as the latest advancements in computing technology continue to roll out unceasingly and with regularity. It is quite important to include the modifier of "appropriate" to this component, otherwise we see an ever-increasing use of technology that adds no value to education yet exacts a heavy price, again in multiple resource categories. The use of appropriate tools, techniques, or processes is much more likely to result in the outcomes that educators desire. 
  3. Facilitate the application of senses, memory, and cognition. It is in this component of my definition where I stepped the farthest away from the majority of existing definitions of the field. My intent here was to generalize the concept of learning both as a process of internalization as well as demonstration of ability. This formulation might serve as summary of Bloom's Taxonomy overlaid on learner, where learning outcomes in the form of know, do, and value are summarized by the combination of the human mind and body. But human capabilities are not wholly adequate to the demands of the modern teaching and learning enterprise, and this is where technology as facilitator has a role. The use of video to bring the depths of the universe to the learner's eyes; the use of the Internet to give the learner instant access to thoughts and observations of humanity's greatest thinkers--these are examples of technology facilitating the application of our own senses, memories, and cognitive abilities. 
  4. Enhance teaching practices. Learning in our formalized education context does not exist in a vacuum; that is, we do not simply provide learners with access to information and resources with the expectation that they will learn through discovery. In fact, our educational infrastructure is based largely on the idea that the learner will progress far more quickly under the mentorship of a skilled instructor--both knowledgeable in the subject matter and competent in instructional methodologies. In the previous component discussion I made my case for technology as a facilitator on the learner's side of education; likewise, technology should also provide assistance and support to instructors during the teaching and learning process. Demonstrations, illustrations, instruction across learning styles--all of these are areas in which technology may provide those teaching with more leverage over learner gaps in knowledge and understanding. 
  5. Improve learning outcomes. Finally, all else might turn out to be simply exercises with no point if we are unable to improve learning outcomes. If no improvements are made with the adoption of new technology, then there is no point to utilizing any technology except for the most basic required to obtain that unchanging level of learning. Therefore, to justify the continued experimentation with and exploration of new technologies: smart classrooms, use of podcasts, access to the Internet, laptops for every child, and on and on, we need to assess our outcomes, make incremental changes in our methodologies to address shortcomings, then assess again, closing the loop in order to evaluate the efficacy of our work. We succeed when we are able to show improved learning outcomes, and as long as our metrics accurately represent the entire cross-section of the learner's experience, we have a legitimate case for the continued use of technology in the teaching and learning endeavor.
There is a broad basis for discussion and debate within the field regarding multiple possible definitions of educational technology. The following sources are recommended reading on the topic.

  • Januszewski, A. (2001). Educational technology: the development of a concept. Englewood, CO: Libraries Unlimited Inc.
  • Reiser, R. A. & Ely, D. P. (1997). The field of educational technology as reflected through its definitions. Educational technology research and development. Vol. 45, No. 3, 63-72.