26.2.14

BACTERIOPHAGE DIAGRAM



Diajukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Media Grafis


Model, Pendekatan dan Metode Pembelajaran


     Konsep Model, Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Konsep Model Pembelajaran
Suatu bentuk atau pola yang menggambarkan rencana pembelajaran. Model pembelajaran akan menjadi pegangan guru di kelas untuk merancang bahan pembelajaran dan sebagai alat yang  dapat membimbing proses pembelajaran. Di dalamnya terdapat strategi pencapaian kompetensi dengan berbagai pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Sedangkan penggunaan metode pembelajaran bersifat optional atau pilihan. Guru boleh memilih model pembelajaran yang akan digunakannya sesuai dengan identifikasi situasi, kondisi dan tujuan pendidikan yang akan dicapai.
Konsep Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran akan berpengaruh pada metode yang diterapkan guru di dalam kelas dan fokus dari suatu pembelajaran. Menurut Roy Kellen terdapat dua pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches). Pembelajaran yang berpusat pada siswa menuntut siswa aktif dalam pembelajaran karena memandang siswa sebagai subyek belajar sehingga menurunkan strategi pembelajaran inquiry-discovery dan pembelajaran induktif. Sedangkan, pendekatan yang berpusat pada guru menempatkan siswa sebagai obyek belajar dan menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran expository.
Konsep Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan suatu penjabaran dari pendekatan. Satu pendekatan pembelajaran dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan, termasuk di dalamnya adalah teknik dan taktik mengajar.


Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model penelitin kelompok disusun oleh Herbert Thelen berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
  • Mempunyai misi atau tujuan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengambangkan proses berpikir induktif.
  • Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model synectic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
  •  Memiliki empat bagian model sebagai pedoman praktis bila guru akan menerapkan suatu model pembelajaran, yaitu:
  1. Urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax)
  2. Adanya prinsip-prinsip reaksi
  3. Sistem sosial
  4. Sistem pendukung
  5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran, meliputi: 1)Dampak pembelajaran; hasil belajar yang dapat diukur. 2) Dampak pengiring; hasil belajar jangka panjang.
  • Membuat persiapan mengajar (instructional design) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.


Empat jenis Model Pembelajaran berdasarkan Teori Belajar
o   Model Interaksi Sosial
Didasari oleh teori beljar Gestalt (field theory). Model interaksi sosial menaruh perhatian pada hubungan individu yang harmonis dengan masyarakat (learning to life together). Model ini memandang pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh, bukan bagian-bagian. Sedangkan strategi pembelajaran yang mencakup di dalamnya adalah kerja kelompok, pertemuan kelas dengan tujuan untuk mengembangkan pemahaman diri dan rasa tanggung jawab, social inquiry untuk mengambangkan kemampua pemecahan masalah sosial dengan berpikir logis, bermain peran simulasi sosial untuk membantu siswa menemukan nilai sosial maupun nilai pribadi dari berbagai kenyataan sosial.

o   Model Pemrosesan Informasi
Berdasarkan pada teori belajar kognitif dari Piaget dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Teori ini dipelopori oleh Robert M. Gagne dengan merujuk kemampuan pemroses informasi pada cara mengumpukan atau menerima stimuli dari lingkungn mengorganisasi data verbal dan visual. Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam pembelajaran.

Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi eksternal (rangsangan dari lingkungan) sehingga menghasilkan hasil belajar. Model ini merumuskan human capabilities yang merupakan keluaran dari pemrosesan informasi, yaitu: (1) informasi verbal; (2) keckapan intelektual; (3) strategi kognitif; (4) sikap; (5) kecakapan motorik. Sedangkan model pemrosesan informasi mencakup di dalamnya beberapa strategi pembelajaran di antaranya: mengajar induktif, latihan inquiry, Inquiry keilmuan, pembentukan konsep, model pengembangan dan Advanced Organizer Model.

o   Model Personal
Didasari oleh teori Humanistik dari berbagai tokoh kumanistik diantaranya Abraham Maslow dan Arthur Comb, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu. Perhatian utamanya adalah emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Menurut teori ini guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif agar siswa merasa bebas dalam mengembangkan dirinya, baik secara emosional maupun intelektual.

Model pembelajaran ini di dalamnya meliputi beberapa strategi pembelajaran, yaitu: (1) pembelajaran non-direktif untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi; (2) latihan kesadaran untuk meningkatkan kemampuan interpersonal; (3) sintetik untuk mengambangkan kreativitas dalam memecahkan masalah dan (4) sistem konseptual untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.

o   Model Modifikasi Tingkah Laku
Model ini didasari oleh teori belajar behavioristik, menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati. Dalam implementasinya, dikenal pemberian reward sebagai bagian dari reinforcement pendukung, pemberian punishment sebagai negative reinforcement dan penerapan prinsip pembelajaran individual terhadap pembelajaran klasikal.

Model pembelajaran ini di dalamnya meliputi berbagai strategi pembelajaran, yaitu: (1) manajemen kontingensi untuk mengembangkan kemampuan konseptual; (2) kontrol diri untuk mengembangkan keterampilan sosial; (3) relaksasi untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan; (4) pengurangan ketegangan untuk mengalihkan pada kepekaan situasi sosial; (5) latihan asertif desentisasi untuk memberikan umpan ekspresi perasaan secara langsung dan spontan dalam situasi sosial; (6) latihan langsung untuk menerpkan pola-pola perilaku dan keterampilan.


Pola pembelajaran dilihat dari penggunaan media


®    Pola Pembelajaran Tradisional I



Pola ini banyak diterapkan, dimana guru berperan sebagi satu-satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Contohnya dalam pembelajaran langsung dan pembelajaran klasikal dimana transfer informasi langsung dari guru kepada siswa tanpa perantara.

®    Pola Pembelajaran Tradisional II
  

Proses transfer ilmu disini dalam pembelajaran langsung dimana guru dan siswa beratatap muka, tetapi peran guru tidak lagi sebagai satu-satunya yang menyampaikan informasi dari awal sampai akhir. Dalam prosesnya guru dibantu dengan media (baik visual, audio, maupun audiovisual) atau alat peraga yang dapat membantu siswa menerima informasi menjadi lebih mennyenangkan. Pembelajaran dengan pola ini misalnya guru menyajikan video atau rekaman suara tentang sejarah.

®    Pola Pembelajaran Guru dan Media

Pada pola pembelajaran ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat memperoleh informasi dari majalah, modul, televisi edukasi, atau bisa dengan guru menyajikan media audio, visual maupun audiovisual ke dalam kelas. Peran guru tidak lagi hanya sebagai transmitter tetapi ia harus mulai sebagai director of learning yaitu sebagai pengelola belajar yang memfasilitasi kegiatan belajar siswa melalui pemanfaatan dan optimalisasi berbagai sumber belajar. Disini peran media dan guru memiliki peran yang sama, bukan lagi hanya melengkapi atau membantu. Misalnya dalam pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan teknologi e-learning.

®    Pola Pembelajaran Bermedia

Pada pola pembelajaran bermedia peran guru digantikan dengan media, sehingga media sebagai sumber informasi utama dalam kegiatan pembelajaran. Di sini peran guru hanya sebagai fasilitator belajar saja. Seperti halnya penerapan pembelajaran berbasis komputer (computer-based learning).


Diajukan untuk syarat Ujian Tengah Semester mata kuliah Model Pembelajaran

Filsafat Teknologi Pendidikan

®     Konsep Filsafat Teknologi Pendidikan

Konsep Filsafat
·        Secara etimologis filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan.
Secara operasional filsafat adalah berpikir untuk memperoleh kebenaran sebagai wujud cinta filsuf kepada kebijaksanaan.

Konsep Teknologi Pendidikan
·         Studi dan praktek etis dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur proses teknologi dan sumber daya yang cocok. (AECT, 2004)

Konsep Filsafat Teknologi Pendidikan
·         Secara operasional berarti proses berfikir untuk menghasilkan sistem pikiran atau sistem teori tentang hakikat dan esensi dari praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
·         Secara leksikal berarti pandangan hidup atau landasan pengambilan keputusan dan dasar tindakan dalam praktik pendidikan khususnya dalam objek kajian teknologi pendidikan.

®     Objek Studi Filsafat dan Filsafat Teknologi Pendidikan
Objek studi filsafat umum terbagi dua, yaitu:

1.       Objek Material Filsafat adalah segala sesuatu yang ada, meliputi:
·         Segala sesuatu yang ada yang telah tergelar di dunia seperti: alam, manusia pengetahuan dan nilai.
·    Segala sesuatu yang ada sebagai hasil kreasi manusia , seperti: politik, ekonomi, hukum, ilmu, pendidikan dsb.

2.       Objek Formal Filsafat
Objek formal filsafat adalah pertanyaan reflektif atau pertanyaan yang memerlukan jawaban, adapun pertanyaan tersebut berkenaan dengan segala sesuatu.

Sedangkan objek material dari filsafat teknologi pendidikan adalah manusia dan pendidikan, sebagai kajian umum dari segala sesuatu yang telah ada di dunia.
Dan memiliki objek formal yang menjadi objek kajian khusus dalam teknologi pendidikan, meliputi:
·         Perancangan (desain) pembelajaran.
·         Pengembangan berbagai macam sumber belajar, orang, pesan, media, alat, metode, dan lingkungan.
·         Pengembangan sumber belajar baik secara konseptual maupun faktual.
·         Pengelolaan kegiatan pengembangan sumber belajar.

·         Mengkaji permasalahan-permasalahan pendidikan, meliputi pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan, relevansi pendidikan, efisiensi dan efektifitas pendidikan.

®     Status Filsafat Teknologi Pendidikan dalam Sistematika Filsafat
Status filsafat teknologi pendidikan merupakan filsafat khusus bagian atau cabang dari filsafat pendidikan.


®     Kegunaan Filsafat Teknologi Pendidikan

Filsafat teknologi pendidikan berfungsi memberikan pedoman kemana pendidikan seharusnya diarahkan, yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan.
Proses berfikir filsafat teknologi pendidikan juga dapat memberikan landasan teori atau ilmu bagi praktik pendidikan dan cabang ilmu pendidikan. Filsafat teknologi pendidikan sebagai ilmu yang mengasuh dan memberikan arahan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya yang berdampak pada bidang kajian teknologi pendidikan.

®     Asumsi Sains Modern dan Sains Baru
Sains Modern
Sains Baru
Realitas sudah jadi (given)
Realitas sedang menjadi
Sifatnya tidak berubah
Tiap waktu berubah
Dianut oleh paham Newton (Newtonian)
Bergabung dan interkoneksitas
Fungsi dan pernanannya sudah ditentukan
Sulit memecah reaksi
Termasuk kedalam konsep reduksionisme/mistis. Segala sesuatu dapat direduksi menjadi bagian-bagian
Antar disiplin ilmu tidak parsial
Memandang sesuatu secara menyeluruh (gabungan dari bagian-bagian)
Memandang sesuatu sebagai kesatuan (tidak memisahkan tubuh dan jiwa)
Statis, Mekanisme, Determinisme
Dinamis, Konstruktivisme
Asas kebenaran; konsep sama dengan praktek dan objektivisme (di luar diri)
Reaksi dibangun oleh diri kita sendiri

®     Aliran yang Menentukan Perkembangan Peserta Didik
Nativisme
       Dikemukakan oleh Schopenhavev
       Merupakan teori pesimis tentang pendidikan; bahwa setiap individu membawa potensi dan bakat yang merupakan faktor keturunan. Bakat atau potensi ini diyakini yang menjadi faktor penentu perkembangan peserta didik.
Empirisme
       Dikemukakan oleh J. Locke
       Manusia lahir diibaratkan sebagai tabula rasa (kertas kosong). Bahwa setiap individu berkembang tergantung kepada pendidik ingin menjadikannya seperti apa.
Konvergensi
       Dikemukakan oleh W. Stern
       Manusia lahir seperti kertas yang masih buram. Ada bagian yang bisa dipengaruhi oleh pendidikan (inteligible), ada bagian yang tidak bisa dipengaruhi pendidikan, yaitu jiwa biologis.


Kuantitatif
Kualitatif
Epistemologi
(Realitas Independen)
Tunggal
Jamak
Dapat diamati dan dapat dibagi
Holistik
Dalam upaya mencari pengetahuan (riset)
Dualisme (Objek dan Subjek terpisah)
Interaktif (Objek dan Subjek berhubungan)
Tidak bisa memahami, hanya bisa menerangkan
Ideografis individualistik (hanya berlaku untuk objek yang diteliti)
Kesamaan dan Generalisasi
Partisipasi
Asumsi hubungan sebab-akibat
Tidak bebas nilai (objektif)
Metode Eksperimen
Mencari pemahaman makna

®     Pro, Kontra, Demekanisasi dan Memanusiakan Teknologi Pendidikan

Pro teknologi pendidikan memiliki asumsi bahwa teknologi pendidikan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan. Sedangkan kontra teknologi pendidikan adalah yang berpendapat pendidikan sebagai seni, bahwa pendidikan bukan suatu hal yang bisa direkayasa tetapi pendidikan adalah kreasi individual.

Yang diharapkan adalah dapat memadukan pemahaman pendidikan sebagai seni tersebut dengan pemahaman lainnya agar praktik pendidikan lebih luwes, yang dikhawatirkan dari rekayasa dan pengggunaan teknologi dalam pendidikan adalah mekanisasi pendidikan.
Sedangkan memanusiakan teknologi pendidikan adalah upaya memudahkan proses pembelajaran dalam konten bahan belajarnya terdapat unsur memanusiakan manusia.

Menurut Ki Hajar Dewantara, mengapa setiap orang dapat berhasil mendidik walau tanpa belajar (mengajar)? Individu pada dasarnya memiliki Insting Pedagogik dan Intuisi Pedagogik. Karena munculnya teori besar bermulai dari intuisi.

“Siapapun akan menjadi guru yang baik jika mempelajari ilmunya.”
 Mengapa ilmu mengajar harus dipelajari? Karena salah satu ciri pendidikan adalah usaha sadar yang didapat dengan mempelajari ilmunya.